Nur Muhammad

Nur Muhammad
Cahaya kesempurnaan kekasih Allah Subhanahu wa Ta'ala

Rabu, 19 Oktober 2011

LAWLAA MUHAMMAD

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. [QS. Al-Maidah: 15]
(Hai Ahli kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu utusan kami) Muhammad (mengungkapkan kepadamu banyak hal dari apa yang kamu sembunyikan dari Alkitab) yakni kitab Taurat dan Injil seperti ayat tentang rajam dan sifat-sifat Nabi saw. (dan banyak pula yang dibiarkannya) di antara demikian sehingga tidak diungkapkannya jika tidak ada kepentingannya selain dari membukakan rahasia kamu belaka. (Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah) itulah dia sang Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (dan kitab) yakni Alquran (yang jelas) nyata. [Tafsir Jalalain I:39]
Dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa “Nuur” adalah sang Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Begitu juga dalam tafsir ibnu Jarir ath-Thabari juz’ 8 halaman 264. Dan Allah menciptakan Nur Muhammad sebelum menciptakan segala sesuatu. Dan kalau bukan karena Muhammad Rasulullah, maka tidaklah Allah menciptakan segala sesuatu.
عن جابر بن عبد الله الأنصارى قال: قلت يا رسول الله، بأبى أنت وأمى، أخبرنى عن أول شىء خلقه الله تعالى قبل الأشياء. قال: يا جابر، إن الله تعالى قد خلق قبل الأشياء نور نبيك من نوره
Dari Jabir bin ‘Abdullah al-Anshari, berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, demi ayah ibuku, kabarkanlah kepadaku tentang sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah Ta’ala sebelum segala sesuatu.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan, sebelum segala sesuatu, Nur Nabimu dari Nur-Nya.” [Al-Mawahibul Laduniyyah 1:48]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ رَوْحُهُ نُورًا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ تَعَالَى قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ يُسَبِّحُ ذَلِكَ النُّورُ وَتُسَبّحُ الْمَلَائِكَةُ بِتَسْبِيحِهِ فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ أَلْقَى ذَلِكَ النُّورَ فِي صُلْبِهِ فَقَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم (فَأَهْبَطَنِي اللَّهُ إِلَى الْأَرْضِ فِي صُلْب آدَمَ وَجَعَلَنِي فِي صُلْبِ نُوحٍ وَقَذَفَ بِي فِي صُلْبِ إِبْرَاهِيمَ ثُمَّ لَمْ يَزَلِ اللَّهُ تَعَالَى يَنْقُلُنِي مِنَ الأَصْلَابِ الْكَرِيمَةِ وَالْأَرْحَام الطَّاهِرَةِ حَتَّى أَخْرَجَنِي مِنَ أَبَوَيَّ
Dari ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam itu ruhnya adalah cahaya di Tangan Allah Ta’ala sebelum diciptakannya Adam, selama seribu tahun, bertasbih cahaya itu, dan bertasbih Malaikat dengan tasbih yang ia baca. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Allah letakkan cahaya itu di sulbinya (Adam). Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: Maka Allah menurunkanku ke bumi di dalam sulbi Adam; dan menjadikan aku di sulbi Nuh; dan memindahkan aku ke sulbi Ibrahim, kemudian Allah Ta’ala memindah-memindahkan aku di antara sulbi-sulbi mulya dan rahim-rahim suci hingga aku dilahirkan ibu-bapakku. [Asy-Syifaa li Qadhi ‘Iyadh hlm. 83]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا عِيسَى آمِنْ بِمُحَمَّدٍ وَأْمُرْ مَنْ أَدْرَكَهُ مِنْ أُمَّتِكَ أَنْ يُؤْمِنُوا بِهِ فَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ الْجَنَّةَ وَلَا النَّارَ وَلَقَدْ خَلَقْتُ الْعَرْشَ عَلَى الْمَاءِ فَاضْطَرَبَ فَكَتَبْتُ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولٌ اللَّهِ فَسَكَنَ
Dari ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Allah wahyukan kepada ‘Isa ‘alayhis salam: Wahai ‘Isa, berimanlah kepada Muhammad, dan perintahkan kepada siapa saja yang engkau temui dari ummatmu agar beriman dengannya. Kalau bukan karena Muhammad, tidaklah Aku ciptakan Adam. Kalau bukan karena Muhammad, tidaklah Aku ciptakan surga, tidak pula neraka. Dan telah Aku ciptakan al-‘Arsy di atas air, maka ia berguncang, maka Aku tuliskan padanya “Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah,” maka ia pun tenang. [Al-Mustadrak no.,4227 dari ‘Ali bin Hamsyadz al-‘Adl, dari Harun bin ‘Abbas al-Hasyimi, dari Jandal bin Waliq, dari ‘Amru bin ‘Aus al-Anshari, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari ibnu ‘Abbas. Al-Hakim menshahihkannya]
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَا غَفَرْتَ لِي، فَقَالَ اللَّهُ: يَا آدَمُ، وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ؟ قَالَ: يَا رَبِّ، لِأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ عَلَىَ قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ، فَقَالَ اللَّهُ: صَدَقْتَ يَا آدَمُ، إِنَّهُ لَأُحِبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ ادْعُنِي بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ
Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Yaa Rabb, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad agar Engkau mengampuniku.” Lalu berfirman Allah –dan Allah Mahamengetahui dan Yang mengajarkan kita- : “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Yaa Rabb, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no.4228, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah V:488-489. Al Mawaahibul Laduniyyah 1:55. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Faatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]
Wallahu 'alam bisshowab




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar